Ari Saptaji
(kausembunyikan air terjun
di lipat lembah - berdentum)
kita sama-sama mesti jalani
hawa beruap tepian ladang wortel
dingin kadang menyekap
keberanian kita buat bertikai
dan malam yang berdiang tanpa aku-engkau
seperti ditelan dongeng-dongeng:
betapa sebuah percakapan!
tidurnya pun tiada mimpi. aku terbangun
dengan ingin menuliskan yang lain
kabut-matahari, perahu-telaga dan remah roti
berderaian seperti nyanyimu. kita terus berjejak
dan membacai papan nama: bahwa rumah ini
tak senantiasa puisi
(kita naik. menyetapaki
kelokan demi kelokan)
Yogya, 1992
Tuesday, May 18, 2010
POSTCARD BAGI YUDI
Tuesday, May 18, 2010 Posted by kumpulan karya Puisi
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






0 comments:
Post a Comment